Musibah kepulauan christmas

Polri Kirim Tim Penyidik ke Australia

Kompas.com - 26/01/2011, 20:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian Republik Indonesia (Polri) akan mengirim tim penyidik ke Australia pada Selasa pekan depan untuk meminta keterangan terkait anak buah kapal yang selamat dalam musibah maut di Kepulauan Christmas. Belum diketahui jumlah warga Indonesia yang selamat dari peristiwa pecahnya kapal akibat menabrak tebing itu.

"Data yang kita terima dari polisi Australia, nama kapal itu Maju Jaya, membawa 72 imigran. Kapal itu menabrak karang pada 15 Desember 2010, akibatnya 30 orang tewas. Kita belum tahu berapa anak buah kapal (ABK) kita yang selamat. Nanti, setelah tim kembali akan diketahui persis," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Rabu (26/1/2011).

Sebelumnya diberitakan, Polri berhasil menangkap aktor intelektual kasus penyelundupan manusia ke Australia melalui jalur laut yang berakhir maut di Kepulauan Christmas. Haydar Khani alias Ali Hamid alias Abu Hamid alias Syahram alias Ali Khoram ditangkap di salah satu apartemen di Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (25/1/2011) malam.

"Dia adalah warga negara Australia keturunan Timur Tengah," ucap Boy.

Seperti diketahui, sekitar 48 orang dinyatakan meninggal setelah sebuah kapal pengungsi mengalami kecelakaan di perairan Australia, tepatnya di Kepulauan Christmas, akhir Desember 2010 lalu.

"Kita mungkin tidak akan mengetahui jumlah pastinya. Namun, informasi yang datang pada saya saat ini, sekitar 90 orang berada di kapal itu," kata Perdana Menteri Australia Julia Gillard, Senin (20/12/2010).

"Ini berarti kita masih belum dapat menemukan sekitar 18 orang lainnya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau